Foto ilustrasi pekerja di lempari batu.
BOJONEGORO – Ketegangan terjadi di lokasi proyek pengembangan PT Shou Fong Lastindo yang berlokasi di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Sejumlah pekerja mengaku menjadi sasaran lemparan batu yang datang dari luar lingkungan proyek saat mereka sedang menjalankan tugas pada Kamis malam, 14 Mei 2026.
Kejadian berlangsung sekitar pukul 20.00 WIB, ketika aktivitas pembangunan di lokasi masih berjalan. Menurut keterangan salah satu pekerja yang enggan disebutkan identitasnya, batu-batu dilemparkan dari arah luar pagar pembatas proyek. Peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba dan membuat seluruh pekerja yang ada di lokasi kaget serta panik.
“Kejadiannya sangat cepat. Kami kaget, lalu segera menghindar dan menghentikan pekerjaan sejenak untuk keamanan. Kami pun tidak tahu pasti apa penyebabnya, apakah terganggu karena kami bekerja sampai malam atau ada hal lain, kami tidak mengerti,” ungkap pekerja tersebut kepada awak media, Jumat (15/5/2026).
Beruntung, dalam insiden lemparan batu tersebut tidak dilaporkan adanya korban luka maupun fasilitas proyek yang rusak. Namun, suasana kerja menjadi terganggu dan sempat berhenti sementara waktu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Shou Fong Lastindo belum memberikan keterangan apa pun terkait kejadian tersebut. Awak media telah berupaya mengonfirmasi fakta kejadian kepada Elok, bagian HRD perusahaan, melalui sambungan telepon dan pesan tertulis. Namun, belum ada tanggapan atau klarifikasi resmi yang diterima.
Dari penelusuran di lapangan, muncul sejumlah isu yang diduga menjadi latar belakang munculnya ketegangan antara warga dengan pihak perusahaan. Sebelum proyek pengembangan dimulai, PT Shou Fong Lastindo diketahui telah melakukan pertemuan dan membuat komitmen bersama Pemerintah Desa Prayungan, serta unsur keamanan setempat dari Polsek dan Koramil. Dalam perjanjian itu, perusahaan berjanji akan melibatkan warga sekitar dalam kegiatan pembangunan, serta bersedia membangun saluran air di luar area pabrik untuk mengatasi masalah banjir saat musim hujan.
Namun, menurut Kepala Desa Prayungan, Lely Yusliani, hingga saat ini komitmen-komitmen tersebut belum terlihat realisasinya.
“Kami sebelumnya sudah menyarankan agar warga setempat dilibatkan sebagai bagian dari tenaga kerja yang dibutuhkan, supaya ada manfaat ekonomi bagi warga sekitar. Tapi selama proses pembangunan berlangsung sampai sekarang, tidak ada satu pun warga kami yang dilibatkan bekerja di sana,” ujar Lely saat dikonfirmasi.
Terkait janji pembangunan saluran air, Lely menambahkan hal yang sama, bahwa hingga kini belum ada tanda-tanda pengerjaan. Selain itu, kebiasaan perusahaan yang menjalankan aktivitas kerja hingga larut malam juga menjadi sorotan warga. Menurutnya, pengerjaan proyek sampai malam hari ternyata tidak diatur secara khusus dalam perjanjian awal kesepakatan bersama, sehingga dianggap mengganggu ketenangan lingkungan sekitar.
Mengenai insiden lemparan batu yang dialami para pekerja, Lely mengaku belum menerima laporan resmi baik dari pihak perusahaan maupun dari warga terkait peristiwa tersebut.
Hingga berita ini dipublikasikan, awak media masih terus berupaya menghubungi pihak manajemen PT Shou Fong Lastindo untuk meminta penjelasan terkait insiden keamanan ini serta kejelasan terkait janji-janji yang telah disepakati bersama warga dan pemerintah desa. (Red)












