Desa  

“Didikan Anak, Uripe Mulia”, Jejak Kebaikan Santri Darul IstiQomah Tutup Masa Pengabdian di Desa Pejambon

admin
IMG20260601221925 copy 1648x1236

BOJONEGORO – Suasana haru bercampur kehangatan menyelimuti Desa Pejambon, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro pada Senin malam, 1 Juni 2026. Malam itu menjadi momen perpisahan bagi puluhan santri Pondok Pesantren Darul IstiQomah yang secara resmi mengakhiri rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat.

Acara pelepasan berlangsung khidmat di hadapan Kepala Desa Pejambon Abd Rokhman, perangkat desa, tokoh masyarakat, sesepuh, serta ratusan warga setempat. Kehadiran Kiai Mbah Run, pengasuh Pondok Pesantren Darul IstiQomah yang berpusat di Desa Woro, Kecamatan Kepohbaru, menjadi penanda penting berakhirnya masa bakti para santri.

Dalam sambutannya, Kiai Mbah Run mengawali dengan puji syukur kepada Allah SWT dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

“Kita berkumpul hari ini membawa dua perasaan. Ada rasa gembira karena tugas pengabdian telah selesai dilaksanakan dengan baik. Namun tak bisa dipungkiri, ada rasa sedih karena hari ini adalah saatnya berpamitan, saatnya anak-anak kami kembali ke Pondok Pesantren di Desa Woro, meninggalkan Desa Pejambon yang telah menjadi rumah kedua bagi mereka,” ujarnya.

Beliau menyampaikan terima kasih atas sambutan luar biasa warga Pejambon. Masyarakat disebut telah memberi contoh nyata kebaikan dengan menerima santri bukan sekadar tamu, melainkan sebagai anak sendiri dan bagian keluarga besar desa.

“Terima kasih telah merangkul anak-anak kami, memberi tempat berteduh, memberi makan, dan yang terpenting memberi mereka pelajaran hidup yang tidak bisa didapatkan dari buku pelajaran semata. Di sini mereka belajar tentang ketulusan, kebersamaan, dan budaya gotong royong yang luar biasa,” tambahnya.

Kepala Desa Pejambon Abd Rokhman mengapresiasi kehadiran para santri. Ia menilai keberadaan mereka membawa suasana baru, semangat kebersamaan, serta manfaat nyata bagi warga, terutama dalam pembinaan pendidikan agama bagi anak-anak desa dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kiai Mbah Run menekankan pesan utama pengasuhan di pondoknya: “Didikan anak, uripe mulia”. Kalimat ini menjadi penekanan nilai pendidikan dan pembentukan akhlak yang harus dibawa santri ke mana pun melangkah.

“Artinya sederhana namun mendalam: seorang anak atau santri yang dididik dengan akhlak yang baik, yang dibimbing untuk selalu berbakti dan berbuat kebaikan, maka hidupnya akan menjadi mulia. Ke mana pun ia pergi, ia akan membawa berkah bagi lingkungannya. Dan kebaikan itulah yang telah kalian coba tanamkan di sini, di tanah Pejambon ini,” tegasnya.

Selama pengabdian, santri aktif mengajari anak desa mengaji, membersihkan lingkungan, membantu warga, hingga menyebarkan ketenangan melalui tutur kata santun. Kiai Mbah Run menyebut jejak kebaikan itu sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski santri sudah kembali ke pondok.

Meski berpisah, Kiai Mbah Run menegaskan momen ini bukan akhir silaturahmi. Pejambon kini bagian sejarah hidup santri. Kelak ketika tumbuh menjadi pemimpin, ulama, atau tenaga ahli, mereka diharapkan tidak melupakan desa tempat menimba ilmu kehidupan.

“Jangan lupa balik ke sini. Jangan lupa pada orang-orang yang pernah mendukung langkah kalian saat masih belajar dan berbakti. Ingatlah, santri itu identik dengan perjuangan, identik dengan pengorbanan, dan identik dengan keberkahan. Di mana kaki kalian berpijak, di situ kebaikan harus kalian sebarkan,” pesannya.

Kepada warga Pejambon, Kiai Mbah Run memohon maaf sebesar-besarnya. Ia meminta maaf jika ada tutur kata kurang berkenan, perilaku kurang sopan, atau pekerjaan belum maksimal. Kekurangan itu disebut bagian proses pembelajaran santri.

Di penghujung acara, Kiai Mbah Run mendoakan Desa Pejambon tetap ramah, religius, dan menjaga persatuan. Ia berharap hubungan baik antara Pondok Pesantren Darul IstiQomah dan masyarakat Pejambon terjalin erat selamanya dalam kebaikan dan ketakwaan.

Prosesi pelepasan ditutup doa bersama yang dipimpin Kiai Imam Subeki. Suasana semakin haru saat santri dan warga saling berpelukan, menyisakan kenangan manis serta jejak kebaikan abadi, sebelum para santri kembali menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul IstiQomah, Desa Woro. (Red)

Tinggalkan Balasan