GAYATRI Bojonegoro Dipantau Ketat, Produksi Telur Tembus 38 Butir dari 44 Ekor Ayam

admin
IMG 20260628 102028 copy 719x407

BOJONEGORO – Pelaksanaan Program GAYATRI atau Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus dipantau. Program pemberdayaan keluarga prasejahtera melalui budidaya ayam petelur skala rumah tangga ini dipastikan berjalan untuk mengejar produksi telur maksimal, Minggu 28/6/2026.

Pengecekan kesehatan ternak dan pemberian vaksin dilakukan secara bertahap oleh pendamping desa dari Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro. Fokus pemantauan saat ini ada di 3 desa Kecamatan Sumberrejo, yakni Desa Sumberrejo, Pekuwon, dan Sumuragung.

Dari tiga lokasi tersebut, kegiatan di Desa Sumberrejo dan Pekuwon dikabarkan telah selesai dilaksanakan. Satu desa lainnya masih dalam proses.

Waktu penanganan di setiap desa berkisar 5 hari hingga 1 minggu. Pendamping Peternakan Kabupaten wilayah Kecamatan Sumberrejo, Aza, mengatakan pemantauan dilakukan dengan keliling ke setiap dusun.

“Sambil keliling, kami juga menanyakan sisa jumlah ternak, keluhan warga, hingga kendala produksi yang dihadapi,” ujarnya

Ia menyebut, di Kecamatan Sumberrejo hanya ada 2 orang pendamping peternakan yang melayani seluruh kegiatan pendampingan.

Dari hasil pemantauan, beberapa kendala kerap disampaikan Kelompok Penerima Manfaat (KPM). Mulai dari kasus kematian ayam, produksi telur menurun, ukuran telur tidak seragam, hingga ada ternak yang tidak bertelur sama sekali.

Untuk penanganan medis, pendamping tidak berwenang. “Penanganan obat sepenuhnya wewenang mantri hewan. Peran kami menjembatani keluhan warga ke Dinas Terkait, lalu menunggu arahan,” jelas Aza.

Data awal, setiap kelompok menerima 54 ekor ayam. Tingkat kelangsungan hidup saat ini sekitar 20 persen. Angka kematian umum 1-2 ekor, namun ada yang mencapai 10 ekor. Penurunan dari 54 menjadi 44 ekor dinilai wajar karena usia ternak sudah hampir 1 tahun.

Produksi telur saat ini tercatat 38-39 butir per hari. Angka itu mendekati jumlah populasi ternak yang tersisa.

Jika KPM tidak mampu merawat karena faktor ekonomi, ternak bisa dipindahkan. “Ternak dapat dipindah ke KPM lain yang lebih mampu. Tapi harus musyawarah desa dulu, lalu lapor ke pendamping, mantri hewan, dan disaksikan pihak terkait agar sah,” kata Aza.

Keluhan terbanyak warga adalah harga pakan tinggi. Menjawab itu, Dinas Peternakan tengah menggodok pelatihan pembuatan pakan mandiri atau self-mixing. Warga akan dilatih meracik bahan baku lokal agar biaya ditekan.

“Masih dalam tahap pembicaraan, belum ada kepastian jadwal,” tambahnya.

Rencana bimbingan teknis (bimtek) Juni 2026 sempat tertunda. Sebab kegiatan harus disandingkan dengan pemberesan data penerima bansos yang anomali. Ada juga perubahan desil KPM dari di bawah 5 menjadi desil 6-7, sehingga Dinas minta desa menyesuaikan ulang.

Hingga kini, pembaruan data dan persiapan bimtek menunggu sinkronisasi data dari Dinas Sosial sebagai dasar kegiatan GAYATRI selanjutnya. (Red)

Tinggalkan Balasan