BOJONEGORO – Komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam menekan kemiskinan melalui sektor peternakan kembali dibuktikan. Program unggulan `Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri`Gayatri` yang sukses berjalan di tahun 2025, kini dilanjutkan pada 2026 di `Desa Karang Dayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro’.
Kepala Desa Karang Dayu saat ditemui di kantor desa pada Jumat (17/7/2026) menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro atas keberlanjutan program ini.
Pada tahun 2025, Desa Karang Dayu telah menerima bantuan `Gayatri` untuk `10 Keluarga Penerima Manfaat`KPM`. Program ini dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga.
“Program Gayatri ini sangat bermanfaat dan bernilai tinggi bagi masyarakat kurang mampu. Ini bukan bantuan yang habis dalam sehari atau seminggu saja, melainkan program berkelanjutan. Ayam yang diberikan akan dirawat, bertelur, dan hasilnya bisa menopang kebutuhan hidup keluarga secara terus-menerus,” ujar Agus Romadhon Kades karangdayu.
Memasuki tahun 2026, Desa Karang Dayu kembali mendapat alokasi yang sama, yaitu `10 KPM`. Saat ini proses perangkaian kandangnya.
Kades berharap program ini tidak berhenti dan terus dilanjutkan selama masa jabatan pimpinan daerah.
“Kami berharap hajat hidup dan taraf ekonomi warga benar-benar diperhatikan lewat program nyata seperti ini,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur mewakili warga.
“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati dan Wakil Bupati. Kenapa kami katakan program ini bernilai tinggi? Karena ini adalah program yang berkelanjutan, bukan bantuan yang hanya habis dalam sehari, dua hari, atau seminggu saja.
Dijelaskan, bantuan berupa `ayam petelur siap produksi` ini harus dirawat agar terus bertelur. Hasil telur nantinya dapat memenuhi kebutuhan harian dan meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat.
Dalam penyaluran, ditemukan beberapa warga yang layak menerima namun menolak karena khawatir tidak bisa merawat dengan baik serta takut menimbulkan bau dan lalat yang mengganggu tetangga.
Hal ini menjadi masukan penting agar penempatan kandang ke depan memperhatikan aspek lingkungan dan kerukunan warga.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tapi mampu mengelola usaha ini secara berkelanjutan, sehingga perlahan namun pasti taraf hidup meningkat dan menuju `Bojonegoro Bahagia, Makmur dan Membanggakan`”. (Red)












