Harga GKS di Sumberrejo Tembus Rp7.200 per Kg Lepas Combi, Petani Tetap Sumringah Meski BBM Naik

admin
IMG20260612161603 copy 568x426

BOJONEGORO – Harga Gabah Kering Sawah (GKS) di wilayah Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, terus mengalami penguatan. Saat ini, harga gabah yang dijual langsung setelah dipanen menggunakan mesin pemanen gabah atau lepas combine harvester telah menembus angka Rp7.200 per kilogram. Kenaikan ini disambut gembira oleh para petani, meskipun kondisi tersebut dibayangi oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (12/6/2026), sejumlah pengepul dan pengusaha penggilingan padi di wilayah tersebut telah bersedia membeli GKS hasil panen mesin dengan harga Rp7.200 per kilogram. Angka ini tercatat naik sebesar Rp300 hingga Rp500 per kilogram jika dibandingkan dengan kondisi pekan sebelumnya, yang masih berada di kisaran Rp6.700 hingga Rp6.900 per kilogram.

Dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai 7 ton per hektare, kenaikan harga ini membuat pendapatan kotor petani di Sumberrejo dapat mencapai Rp50,4 juta per hektare lahan.

“Alhamdulillah, di Sumberrejo sekarang gabah bisa terjual seharga Rp7.200 per kilogram. Itu harga lepas mesin langsung dari sawah. Sudah cukup lama tidak ada suasana yang semarak seperti ini,” ujar Tohir, salah seorang petani setempat.

Meskipun bersyukur, Tohir mengaku tetap harus menghitung pengeluaran dengan cermat. Kenaikan harga solar dan BBM jenis nonsubsidi turut mendorong meningkatnya biaya operasional, mulai dari sewa traktor, mesin pemanen, hingga biaya pengangkutan gabah.

“Tentu senang kalau harga gabah naik. Namun, kebutuhan solar untuk mesin dan traktor juga ikut naik. Akibatnya, biaya operasional menjadi lebih besar. Keuntungan masih ada, tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak jika tidak dikelola dengan hemat,” tambahnya.

Sementara itu, Petir, seorang pengusaha gabah yang telah berkecimpung lama di Bojonegoro, menilai harga Rp7.200 per kilogram tersebut sudah cukup menguntungkan petani karena berada di atas ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

“Harga Rp7.200 itu sudah sangat baik bagi petani di Sumberrejo. Saya mengimbau agar para petani tidak terburu-buru menjual gabah dengan harga murah kepada pengepul yang memanfaatkan situasi,” tegas Petir.

Ia juga menjelaskan bahwa harga beras di pasar saat ini juga masih berada dalam tren naik. “Harga beras saat ini berkisar di angka Rp 12.000 hingga Rp13.500 per kilogram, tergantung kualitasnya. Untuk jenis beras yang lebih baik, harganya bisa lebih tinggi lagi,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia mengakui kenaikan harga BBM juga memberikan tekanan pada usaha distribusi. “Dampak kenaikan BBM membuat keuntungan dalam pengiriman beras menjadi menipis. Biaya angkutan naik, tetapi harga jual beras tidak bisa dinaikkan secara sembarangan,” katanya.

Petir berharap pemerintah segera mengambil langkah kebijakan yang tepat. “Diharapkan pemerintah memberikan solusi yang seimbang. Tujuannya agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak, pedagang tidak mengalami kerugian, dan masyarakat tetap dapat membeli beras dengan harga yang terjangkau dan wajar,” pungkasnya.

Menurut perkiraannya, harga gabah masih berpotensi naik dalam dua minggu mendatang. “Kemungkinan bisa menyentuh angka Rp7.300 hingga Rp7.400 per kilogram jika persediaan gabah di sawah makin berkurang dan penggilingan padi mulai berebut mendapatkan pasokan,” tutupnya.(Red)

Tinggalkan Balasan