BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Pemkab Bojonegoro terus menunjukkan komitmen memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan.
Melalui Dinas Pendidikan, Pemkab meluncurkan Gerakan Ayo Sekolah di SD Negeri 1 Pragelan, Kecamatan Gondang, Jumat 24 Juli 2026. Program ini jadi langkah nyata menekan angka anak tidak sekolah ATS sekaligus mengembalikan mereka ke dunia pendidikan.
Program ini menjadi strategi pemerintah daerah untuk menjangkau anak-anak yang rentan putus sekolah akibat berbagai persoalan, terutama faktor ekonomi dan keterbatasan akses pendidikan.
Melalui pendekatan langsung, Gerakan Ayo Sekolah tidak hanya mengajak anak kembali belajar, tetapi juga memberikan pendampingan kepada keluarga agar pendidikan tetap menjadi prioritas.
Berbagai dukungan disiapkan, mulai dari pendataan anak tidak sekolah, pemberian beasiswa pendidikan, bantuan perlengkapan sekolah, hingga pendampingan bagi anak dan orang tua. Langkah ini diharapkan mampu menghilangkan hambatan yang selama ini membuat sebagian anak harus meninggalkan bangku sekolah.
“Pendidikan bukan hanya hak, tetapi merupakan fondasi utama untuk membangun masa depan bangsa. Melalui Gerakan Ayo Sekolah, kita tidak hanya mengembalikan anak-anak ke ruang kelas, tetapi juga menghidupkan kembali mimpi dan harapan mereka,” ujar panitia dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, didampingi Kepala Dinas Pendidikan, perwakilan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta Camat Gondang.
Kehadiran mereka dirangkai dengan Turnamen Bola Voli SD “Prasasti Cup Pragelan” sekaligus penyerahan bantuan perlengkapan sekolah kepada anak-anak yang masuk kategori Anak Tidak Sekolah ATS.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nurul Azizah menegaskan Pemkab Bojonegoro memiliki komitmen kuat agar tidak ada satu pun anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.
Ia menyampaikan sesuai arahan Bupati Bojonegoro, seluruh anak di Bojonegoro harus dapat mengakses pendidikan tanpa terkecuali.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah anak tidak sekolah yang sebelumnya mencapai 5.610 anak kini berhasil ditekan menjadi 5.199 anak.
“Target kita jelas, seluruh anak Bojonegoro harus sekolah. Gerakan ini dimulai dari Desa Pragelan sebagai langkah nyata agar tidak ada lagi anak yang tertinggal dari pendidikan. Harapan kami, seluruh anak bisa kembali belajar, meraih cita-cita, dan menjadi generasi yang sukses,” ujar Nurul Azizah.
Pemkab Bojonegoro berharap Gerakan Ayo Sekolah menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dengan kolaborasi tersebut, angka anak putus sekolah di Bojonegoro diharapkan terus menurun sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk membangun masa depan melalui pendidikan berkualitas.(Red)












