Foto ilustrasi.
BOJONEGORO – Suasana politik Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro memanas menjelang Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) yang dijadwalkan 10 Juni 2026. Warga secara tegas mendesak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan panitia pemilihan memprioritaskan putra daerah sebagai calon kepala desa.
Desakan itu muncul setelah panitia menerima pendaftaran 6 bakal calon kepala desa. Dari jumlah tersebut, 3 orang berasal dari luar Desa Wotan. Warga menilai kehadiran kandidat dari luar bukan sekadar bagian dari demokrasi, melainkan strategi politik yang berpotensi menjadikan desa sebagai pintu masuk investasi kekuasaan.
“Kami minta BPD, panitia, PMD, Bupati, DPRD, sampai Camat Sumberrejo bijak mengambil keputusan. Berikan kesempatan anak desa sendiri yang sudah paham betul kondisi, karakter, dan budaya Wotan,” ujar AT salah satu tokoh masyarakat saat ditemui di warung warga, Senin (1/6/2026).
Tidak hanya BPD dan panitia, warga juga meminta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bojonegoro, Bupati Bojonegoro, anggota DPRD, hingga Camat Sumberrejo turun langsung mengawasi proses PAW. Tujuannya agar pemilihan berjalan adil, transparan, dan tidak mengabaikan hak warga asli.
Bagi warga, PAW Desa Wotan kini tidak lagi sekadar pesta demokrasi. Proses ini dinilai berubah menjadi arena pertarungan kepentingan politik masif. Keberadaan 3 calon dari luar desa dipandang bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana strategi kekuasaan jangka panjang.
Kekhawatiran warga juga mengarah pada visi pembangunan. Dukungan yang berdasar pada gagasan dinilai kian luntur. Warga khawatir semangat memajukan desa runtuh jika pemimpin terpilih tidak memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
Warga memahami peraturan memberi hak yang sama bagi setiap Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat. Namun, bagi mereka, keadilan adalah ketika aturan tetap mempertimbangkan putra daerah yang siap mengabdi di desanya.
“Secara umum kami mendukung PAW terlaksana baik dan tertib. Tapi muncul indikasi banyak calon luar desa yang bawa kepentingan politik. Ini tak bisa dibiarkan. Kepemimpinan desa harus paham kondisi warganya. Kami akan kawal sampai tuntas,” tegas MT, tokoh pemuda Desa Wotan.
Hingga berita ini diturunkan, BPD dan panitia PAW Desa Wotan belum memberikan keterangan resmi terkait mekanisme seleksi maupun tanggapan atas desakan warga. Masyarakat berharap pihak berwenang segera turun tangan agar PAW Wotan menjadi contoh demokrasi desa yang berpihak pada putra daerah. (Red)












