BOJONEGORO – SPPG Yayasan Ventura Jaya Abadi menggelar kegiatan sosialisasi sekaligus mematangkan rencana peluncuran perdana program pangan bergizi yang dijadwalkan resmi berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026 mendatang. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Karangdinoyo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, pada Jumat (8/5/2026), dan dihadiri langsung oleh Camat Sumberejo, Kapolsek Sumberejo, Danramil Sumberejo, kepala desa Karangdinoyo, tenaga ahli gizi dari Persatuan Gizi Indonesia (Persagi), serta para kepala sekolah yang akan menerima manfaat program tersebut.
Program ini digagas sebagai langkah nyata mendukung upaya pemerintah menekan angka stunting, gizi buruk, serta masalah kekurangan gizi yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Dalam pemaparannya, ahli Gizi MBG Setiawan, yang tergabung di Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Bojonegoro menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada penerapan standar kebersihan yang ketat serta ketepatan takaran gizi pada setiap menu yang akan didistribusikan.
“Poin-poin yang kami sampaikan ini nanti akan kami sambungkan dan laporkan kembali kepada Bapak Camat, Bapak Danramil, dan Bapak Kapolsek. Jika diperlukan, laporan ini juga akan kami sampaikan kepada pimpinan kami sebagai bentuk pertanggungjawaban dan pemantauan berkelanjutan,” ujar Setiawan.
Pemantauan rutin akan dilakukan bersama tim SPPG terhadap setiap menu yang disajikan kepada penerima manfaat setiap pagi. Setiap hidangan wajib memiliki kejelasan data lengkap, mulai dari dokumentasi foto, laporan penerimaan, rincian jumlah penerima manfaat, hingga rincian kandungan gizinya. Dalam laporan tersebut, harus tercantum rincian lengkap mulai dari jumlah kalori, karbohidrat, protein, lemak, hingga serat. Jenis menu yang disajikan – mulai dari nasi, lauk, sayuran, hingga buah-buahan – pun harus tercatat dengan jelas, dan pemantauan akan terus berjalan selama program berlangsung.
Mengingat peluncuran yang tinggal beberapa hari lagi, Setiawan juga menyampaikan masukan penting kepada Kelompok Kerja (Pokja) SPPG agar segera mempercepat persiapan teknis. “Rencana pelaksanaan tanggal 18 mendatang sudah dekat, sehingga persiapan penyusunan menu seharusnya sudah dimulai sekarang. Menu untuk jangka waktu satu minggu hingga satu bulan ke depan wajib disusun lebih awal agar tidak ada hambatan saat pelaksanaan,” tegasnya.
Selain jenis makanan, aspek porsi penyajian juga menjadi perhatian utama. Porsi makanan dibagi menjadi porsi besar dan porsi kecil. Sesuai masukan Kapolsek Sumberrejo, rincian kandungan gizi harus tetap dicantumkan dengan jelas untuk setiap jenis porsi, termasuk untuk porsi khusus. Hal ini menjadi kunci utama mengingat sasaran program meliputi ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita, yang masing-masing memiliki kebutuhan gizi berbeda.
Setiawan juga menyoroti peran Kepala Sub Bidang Gizi, di mana pola pikir lama yang menganggap penyajian makanan sekadar “ada nasi dan ada lauk saja sudah cukup” harus segera diubah. Penyelenggara wajib memahami kondisi khusus setiap penerima manfaat, seperti anak yang memiliki alergi makanan, riwayat penyakit tertentu, atau bahkan yang mengalami kelebihan berat badan. Penyajian makanan yang tidak memperhatikan hal ini dianggap tidak tepat sasaran, meskipun anggaran telah disiapkan.
“Saat ini pola penyajian masih berlandaskan prinsip gizi seimbang secara umum. Namun ke depannya, seluruh kegiatan dan pelaporan wajib diinformasikan dan diunggah ke dalam grup komunikasi resmi yang telah disediakan. Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menanamkan pola makan dan perilaku hidup sehat sejak dini,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar menu yang disiapkan memiliki variasi tinggi. “Setiap hari penerima manfaat harus mendapatkan makanan bernilai gizi tinggi. Meski hanya satu kali pemberian sehari, menunya harus bervariasi agar nilai gizinya beragam dan kebutuhan tubuh terpenuhi sepenuhnya. Variasi menu juga bertujuan membiasakan anak-anak menyukai berbagai jenis makanan, termasuk sayuran, sehingga perlahan hilang rasa tidak suka atau fobia terhadap jenis pangan tertentu,” jelasnya.
Pola pikir “makan asal kenyang” dinilai sudah tidak relevan lagi. Makanan sederhana seperti nasi campur mi atau nasi dengan sambal memang mengenyangkan, namun minim gizi. Oleh karena itu, menu yang disiapkan harus sehat, lezat, dan disesuaikan dengan usia penerima, baik dari jenis maupun bentuk makanannya.
Keamanan Pangan Jadi Prioritas Utama.
Aspek keamanan pangan dari hulu ke hilir menjadi perhatian serius agar tidak terjadi kasus keracunan atau penurunan kualitas makanan akibat bahan baku rusak atau pengolahan yang kurang tepat. Setiawan, Ahli Gizi MBG Kabupaten Bojonegoro, menjabarkan tiga langkah utama yang wajib diterapkan seluruh tim pelaksana:
1. Penyortiran: Bahan mentah harus dipilah saat datang dari distributor. Bahan yang sudah busuk atau tidak layak konsumsi harus segera dibuang agar tidak menularkan kerusakan ke bahan lain.
2. Pencucian dan Pengolahan: Setelah disortir dan dicuci bersih, pengolahan makanan disesuaikan dengan kondisi dan usia penerima manfaat, misalnya tekstur makanan untuk balita berbeda dengan anak sekolah.
3. Distribusi dan Penyimpanan: Masakan panas tidak boleh langsung ditutup rapat untuk mencegah kontaminasi. Makanan berat tidak boleh dicampur dalam satu wadah dengan buah-buahan, karena kulit buah bisa mengandung pestisida atau bakteri yang berbahaya jika bersentuhan langsung dengan makanan matang.
Sasaran Luas: Cegah Stunting Hingga Anemia Remaja.
Program ini ditargetkan mampu menekan angka stunting, gizi buruk, dan gizi kurang pada balita, serta kekurangan gizi pada anak sekolah. Khusus bagi remaja putri, program ini sangat krusial mengingat maraknya pola pikir yang mengutamakan penampilan langsing tanpa memerhatikan gizi, yang berisiko tinggi menyebabkan anemia.
“Jika dibiarkan, remaja putri yang kekurangan gizi dan anemia saat dewasa akan berisiko tinggi saat hamil dan melahirkan, serta berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Ini mata rantai yang harus kita putuskan sejak dini,” jelas Setiawan.
Sasaran program ini sangat luas, mulai dari ibu hamil, menyusui, bayi, balita, hingga siswa SMP dan SMA. Melalui program ini, penerima manfaat mendapatkan sekitar 30 persen kebutuhan gizi harian, yang diharapkan dapat mengubah kebiasaan makan yang asal-asalan menjadi lebih sehat dan bergizi. Pungkas Setiawan.
Sementara itu, Yusup, Ahli Gizi SPPG Yayasan Ventura Jaya Abadi, dalam pemaparannya juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, guru, orang tua, dan wali murid untuk aktif memberikan masukan demi kelancaran program. Ia juga menyampaikan data penerima manfaat untuk wilayah SPPG Karangdinoyo yang mencapai total 1.892 orang. Rinciannya: TK sederajat 429 orang, SD sederajat 590 orang, SMP 305 orang, SMA/SMK 420 orang, serta tenaga pendidik 152 orang.
Pelaksanaan program pada 18 Mei mendatang tidak langsung melayani seluruh jumlah tersebut sekaligus, melainkan bertahap sesuai petunjuk teknis. Tahap awal akan melayani sekitar 1.000 penerima manfaat, sementara sisanya tetap akan dilayani dan didukung oleh SPPG yang sudah berjalan sebelumnya.
“Kami sangat membutuhkan saran dan masukan. Jika ada kendala teknis, sampaikan langsung kepada kami agar komunikasi tetap terjaga, tidak perlu diviralkan di media sosial. Ini adalah program Presiden yang berdampak positif bagi ekonomi masyarakat dan masa depan gizi anak-anak kita,” imbau Yusup di akhir acara.( Red ).












