BOJONEGORO berada di persimpangan jalan berbahaya: antara pembangunan yang menyejahterakan atau “laba di balik kehancuran” yang menggerogoti. Proyek Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKD) yang mengunakan teknik lindas material menjadi sorotan, arena pertarungan kepentingan, di mana mutu dan kualitas seringkali dikorbankan demi keuntungan sesaat.
Teknik “menguntungkan” dalam proyek jalan rijid beton yang mengunakan teknik Lindas material patut dicurigai. Evaluasi material bukan sekadar formalitas, tetapi kebutuhan mendesak. Apakah material yang digunakan benar-benar sesuai standar? Ataukah ada praktik “kongkalikong” yang mengorbankan kualitas demi keuntungan pribadi?

Perencanaan dan pengawasan proyek rijid beton yang menggunakan teknik Lindas Material harus dirombak total. Jangan hanya menjadi stempel formalitas, tetapi instrumen pengendalian yang efektif. Libatkan ahli independen dan masyarakat sipil dalam proses pengawasan. Jangan biarkan proyek program BKD ini menjadi bancakan para koruptor.
Program BKD pun tak luput dari praktik koruptif. Lelang pengadaan harus transparan, bukan sekadar kedok untuk “mengamankan” proyek bagi kroni-kroni penguasa. Hentikan praktik “pengkondisian” yang merugikan desa dan masyarakat.
Pemerintah daerah harus berani bertindak tegas. Jangan biarkan Bojonegoro menjadi surga bagi para koruptor dan perusak pembangunan. Transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Jika Bojonegoro gagal berbenah, jangan salahkan jika masyarakat marah. “Laba di balik kehancuran” hanya akan menyulut api kemarahan dan ketidakpercayaan. Bojonegoro bisa menjadi contoh buruk bagi daerah lain, di mana korupsi merajalela dan pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Namun, jika Bojonegoro berani melawan arus, daerah ini bisa menjadi contoh sukses pembangunan yang bersih dan berkelanjutan. Infrastruktur yang berkualitas, lingkungan yang terjaga, dan tata kelola pemerintahan yang baik akan menarik investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pilihan ada di tangan para pemimpin Bojonegoro. Apakah mereka akan memilih “laba di balik kehancuran” atau pembangunan yang menyejahterakan? Sejarah akan mencatat pilihan mereka.
*Opini ini ditulis berdasarkan rumor di masyarakat dan berdasarkan temuan di lapangan.*












