BOJONEGORO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bojonegoro menjadi sorotan tajam karena menu yang disajikan dianggap kurang variatif dan kualitas yang diragukan selama bulan suci Ramadan. Merespon kritik tersebut, DPRD Kabupaten Bojonegoro memanggil seluruh pihak terkait dalam audiensi pada Rabu (4/3/2026).
Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Ahmad Supriyanto, meluruskan persepsi masyarakat yang mengira anggaran per porsi mencapai Rp15.000. “Faktanya, anggarannya sekitar Rp8.000 untuk porsi kecil dan Rp10.000 untuk porsi besar,” tegas Supriyanto.
Kritik juga datang dari Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Bojonegoro, Erni Ernawati, yang menyoroti fenomena “menu malas” di lapangan. Persagi menekankan bahwa MBG bukan sekedar kenyang, tapi harus memenuhi empat pilar: makanan pokok, protein hewani, protein nabati, dan buah-buahan.
Masalah holding time atau ketahanan makanan juga menjadi perhatian. Persagi mengingatkan bahwa makanan basah hanya layak konsumsi dalam 6 jam, sementara makanan kering bisa bertahan lebih dari 12 jam.
Dewan Bojonegoro mendesak koordinasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan penyedia gizi diperketat agar kejadian “salah menu” tidak terulang kembali dan siswa tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa. Ahmad Supriyanto menegaskan bahwa program MBG harus sukses di Bojonegoro karena membawa multiplier effect bagi ekonomi daerah.( Red ).












