Bojonegoro – Jalan rusak di wilayah Kecamatan Baureno kembali mengakibatkan kecelakaan dan viral di media sosial. Pemerintah Daerah (Pemda) baru datang untuk melakukan perbaikan, Ini bukan karena inovasi, melainkan karena lubang di jalan nasional.
Seorang pengendara motor jatuh pada Rabu malam, 28 Januari 2026. Syukurlah selamat. Pemerintah? Seperti biasa, datang belakangan.
Di daerah ini, jalan berlubang bukan sekadar infrastruktur rusak. Ini sudah seperti tradisi—warisan yang lestari dari musim ke musim, dari tahun ke tahun.
Lubang itu tidak muncul semalam. Ia tumbuh, membesar, dipelihara oleh waktu, dan dibiarkan oleh kebiasaan.
Seperti biasa, pemerintah baru benar-benar sadar setelah kamera menyala. Kalau belum viral, mungkin masih dianggap tekstur artistik aspal.
Video kecelakaan beredar. Barulah perhatian datang. Barulah repot. Barulah ingat bahwa jalan berlubang itu nyata, bukan metafora.
Jawaban pun muncul, singkat dan menenangkan. “Inggih, malam ini didandani,” jelas Bupati Wahono, saat dihubungi Kamis malam, 29 Januari 2026.
Cepat. Sigap dan sekaligus jujur: memang rusaknya sudah lama.
Memang, wilayah jalan Bojonegoro–Babat, dikelola Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali, di bawah PPK 1.5 mencakup perbatasan Bojonegoro–Babat–Lamongan.
Dan Wilayah ini masuk dalam satuan kerja PJN Wilayah 1 Provinsi Jawa Timur. Secara administrasi, ruas jalan tersebut memang bukan kewenangan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Itu wilayah balai besar jalan nasional di provinsi Jawa Timur.
Namun publik juga paham wilayah itu ada di Bojonegoro, dilalui warganya setiap hari, dan risikonya ditanggung warganya sendiri.
Maka semestinya ada mata, ada orang, ada sistem yang rutin mengecek dan mengingatkan.
Agar ada sinkronisasi antara pemerintah Kabupaten dengan BBPJN satuan kerja PJN Wilayah 1 Provinsi Jawa Timur sebagai pemegang kewenangan.
Negara tidak boleh kalah cepat dari lubang. Di sini, aspal bukan dicek rutin, tapi menunggu korban. Lubang bukan ditutup, tapi menunggu bukti.
Kita bahkan patut berterima kasih pada korban yang hampir celaka. Tanpa mereka, mungkin lubang itu masih berstatus situs bersejarah.
Logika kita terbalik: bukan mencegah agar tak ada kecelakaan, tapi memperbaiki setelah nyaris ada pemakaman, bahkan sebelumnya ada korban yang meninggal.
Setiap lubang adalah ujian iman pengendara. Selamat berarti rezeki. Celaka berarti statistik.
Menambal semalam suntuk memang terdengar heroik. Tapi jauh lebih heroik jika tak perlu ada yang jatuh lebih dulu.
Kalau besok muncul lubang baru, jangan kaget. Mungkin itu hanya siklus: rusak, diam, viral, tambal, lupa.
Di daerah ini, yang rutin bukan perawatan jalan, tapi ritual, tunggu korban, lalu kerja lembur.
Jika lubang tak pernah habis, mungkin yang benar-benar bocor bukan aspal melainkan cara kita mengurus sesuatu yang seharusnya selesai sebelum menjadi masalah.
( Redaksi).












